jump to navigation

A Blessing in Disguise Februari 14, 2008

Posted by jusak in wisata kuliner.
Tags: , , , , , , , , , ,
trackback

xtra-joss.jpg

Gawat! Istriku harus tugas ke Bandung nih. Sementara dia nggak tega ninggalin gue di rumah, secara penyakit Lupus gue ini belum bener-bener jinak. Gimana ya?

Tapi puji Tuhan, akhirnya sesuatu yang nggak mengenakkan itu mendapat solusi yang menyenangkan. Ternyata di Bandung ada hotel yang kayak rumah, lengkap dengan dapurnya, dan hebatnya lagi, bisa nerima keberadaan Snowy. Jarang lho, hotel mau nerima anjing. Para pemilik anjing pasti bisa ngerasain sebelnya ketidakadilan ini. Untung pemilik hotelnya juga miara anjing dan ngerti seberapa nggak teganya ninggalin anjing di rumah beberapa hari. Akhirnya, jadi deh kita boyongan; seisi rumah dibawa istri gue ke Bandung, termasuk Muji, my assistance dan Yanti, babysitternya Snowy (doggysitter kali ye, he he).

 

    

dsc02099.jpg

Begitu nyampe hotel gue dan istri pergi lagi cari makan. Tujuannya nasi campur Kelenteng yang terkenal maknyuss itu. Cari cari cari, tempat tujuan nggak ketemu juga. Sempet liat jalan kelenteng sih, tapi karena jalan satu arah, jadinya kelewat dan susah nemuin lagi, malah nyasar nggak keru-keruan.

Untunglah, akhirnya bisa lewat stasiun, tempat yang lumayan gue kenal. Tanpa pikir panjang, kita langsung ke restoran Ahong, di belakang stasiun, tempat makan favorit kita dari dulu. Keinginan nasi campur ditunda dulu.

Di sana, seperti biasa kita pesen Mie Masak Kuah. 

Yang gue seneng dari restoran ini, chinese foodnya kerasa asli sekali. Beda banget dengan rata-rata chinese food di daerah gue di Jakarta. Cara penyajiannya pun asli cina sekali (menurut imajinasi gue, soalnya kan nggak pernah ke negri cina, apalagi makan di sono). Makanan disajiin lengkap dengan dua mangkuk kecil kosong tambahan, dan sendok bebek, tentunya buat share makanan. Rasanya juga bukan main, rasa sayurnya kerasa banget dan sangat seger. Segernya seledri dan campuran daun bawang yang melimpah tercium dari uapnya yang harum mengepul. 

Buat yang nggak tahu mie masak, hidangan ini sebetulnya rada mirip mie rebus jawa. Cuma macam dan jumlah sayurannya jauh lebih banyak, sehingga mirip cap cay. Bedanya, cap cay kan kental dan mahteh, kalau mie masak ini cair dan ringan banget. Biasanya dihidangkan dalam porsi raksasa, dengan udang dan daging yang melimpah. Mienya? Ringan dan empuk, tapi nggak njemek kayak mie jawa. Dihidangkan super panas, supaya sampe sendok terakhir tetep terasa hangat dan aromanya terus keluar. Kalo dihidangkan dengan porsi raksasa, apa bisa habis? Kenyataannya, rasanya yang seger dan mienya yang ringan bikin mie ini segera ludes, licin, bahkan sampai tetes kuah yang penghabisan.

 

Komentar»

No comments yet — be the first.